Selamat Jalan
Kemarin, beliau masih duduk bersebelahan denganku dalam satu forum yang membahas persiapan “Switch Over” yang rencananya akan diselenggarakan akhir pekan ini. Beliau tampak lelah dan sempat memejamkan mata sejenak dalam forum itu. Namun, tidak ada tanda2 dia akan pergi. Setidaknya kami yang berada diforum itu tidak menyadarinya, walaupun mungkin sebenarnya dia sudah menampakkanya. Semangatnya masih terlalu dominan untuk menutupi kelelahannya itu yang mungkin ungkapan lelah terhadap dunia ini.
Hari ini dia telah pergi. Jiwanya telah terbebas dari kefanaan. Buku catatan hidupnya kini telah sampai pada halaman terakhir. Ya, dia telah menutup matanya. Selamanya. Dia telah kembali kepada Rabb-nya.
Selamat jalan. Selamat menempuh “hidup baru”. Semoga Apa yang telah engkau usahakan dapat memberi manfaat untuk “hidup baru”mu kini. Semoga kelapangan menyertai perjalananmu. Semoga sosok rupawan yang kelak menjadi temanmu di sana. Semoga Engkau mendapatkan cahaya yang membuatmu tersenyum menanti hari yang dijanjikan.
Tunjukkan Arahmu
Rasa ini begitu memuncak kurasa
Layaknya pendaki saat mengukir atap bukit dengan jejak2 sang petualang
Berilah arah untuk bahagiaku menuju kemulyaan
Agar tak tersesat oleh fatamorgana ciptaan makhluk penghuni jahanam
*Saat sentuhanMu kurindu
Kutitip Rasa Ini
Ku titipkan rasa ini padamu.
Aku sungguh tak mampu menjaganya.
Hatiku ini terlalu lemah untuk itu.
Kau saja yang tentukan.
Kau saja yang pilihkan.
Aku… ingin hanya kau yang hadir dibalik bahagiaku.
Engkaulah kesempurnaan itu
* karna engkau Tuhanku
Hanya Bisa Tersenyum
Mimpi itu kini telah lenyap
Bukan hilang
Hanya tak nampak lagi daalam pandanganku
Mimpi itu kini telah terwujud
Ya… kini nyata adanya
Namun bukan dalam kenyataanku
Aku hanya berusaha tersenyum
Bukan untuk menghibur laraku
Hanya untuk melihatmu bahagia
* aku hanyalah sebaris kisah yang telah tuhan tuliskan dalam catatan hidupmu. Dan mungkin tercatat dalam bab butir2 debu kehidupan.