Mimpi = sampah atau harta karun ?
Begitu banyak kesuksesan itu berawal dari mimpi.
Sejarah mencatat bahwa beberapa penemuan2 penting itu berawal dari pikiran2 yang dianggap bodoh oleh si penemu.
Sebut saja thomas alfa edison yang menemukan lampu pijar.
Sebelum dia berhasil mewujudkan mimpinya, semua orang menganggap dia adalah orang yang tidak waras.
Ya… mimpi memang memliki kekuatan dahsyat.
Tapi jangan kita lantas sembarangan menjadi pemimpi.
Mimpi seorang thomas alfa edison adalah mimpi seorang yang berkemauan keras untuk mewujudkan mimpinya itu.
Mimpi seorang penemu lampu pijar itu adalah mimpi yang dibangun diatas keteguhan hati dalam menapaki berbagai macam kegagalan.
Jadi…
Jangan berani-berani menjadi seorang pemimpi, jika kita tidak memiliki keberanian untuk gagal.
Jangan berani-berani menjadi seorang pemimpi, jika kegagalan masih dianggap sebagai suatu penghambat.
Bermimpilah untuk hal yang sungguh-sungguh ingin kita nikmati kegagalan demi kegagalan yang ada dihadapan.
Karena mimpi hanyalah angan-angan sampah jika kita berhenti dan menyerah pada kegagalan.
Mimpi adalah harta karun yang amat berharga jika kita berhasil menemukan setiap kepingan kegagalan yang terserak untuk disusun menjadi sketsa keberhasilan.
Untuk yang berani bermimpi, ingatlah :
Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya* Nidji – Laskar pelangi
.: Ispired by Laskar pelangi :.
kandagalantes said,
December 11, 2008 at 3:10 am
Sering kali kita mengejar MIMPI
Seolah – olah impian itu adalah TARGET
Susah payah penuh pengorbanan mimpi DIKEJAR
Setelah tercapai kita akan kembali BERMIMPI
Hidup adalah untuk IBADAH
Ibadah itu bukanlah BERMIMPI
Karena ibadah adalah hidup HARI INI
Memaksimalkan HARI INI dan DETIK INI
Masa depan adalah MISTERI
Masa lalu adalah HISTORI
Mimpi hanya membatasi KEMAMPUAN
MAKSIMALKAN HARI INI UNTUK MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK
http://fusion-kandagalante.blogspot.com
Rakyat Kecil said,
December 11, 2008 at 6:50 am
Bagaimana jika seorang hamba bermimpi untuk menikmati SURGA milik sang pencipta….?
Bukankah itu target tertinggi dari orang tersebut?
Bukankah dengan mimpi itu dia akan berusaha mencapainya dengan mati-matian?
Saya sependapat bahwa ibadah itu bukan mimpi dan mimpi bukanlah ibadah.
Hanya, yang saya pahami ibadah itu adalah jalan untuk meraih mimpi itu (baca : surga).
Jadi saya masih memiliki pemahaman jika kita memang perlu bermimpi. Ingat, BERMIMPI… bukan BERHAYAL..
Dan bermimpi itu berbeda dengan berhayal.
Mimpi cenderung mendorong motivasi seseorang untuk memperbaiki kualitas diri sedangkan hayalan cenderung melalaikan seseorang.
Silahkan dikoreksi jika pemahaman saya itu keliru. karena pada hakikatnya saya hanyalah manusia yang memang tidak luput dari kesalahan.
kandagalantes said,
December 11, 2008 at 8:53 am
surga itu suatu imbalan artinya apa??? tanpa kita mengharapkannya juga pasti kita dapet dengan catatan kita ikuti aturan yang berlaku alias perintah Allah SWT…
Tujuan hidup itu ibadah.
Coba sekarang kita bermimpi untuk mendapatkan kuliah di universitas ternama pasti kita akan mengejar mimpi itu dan menghabiskan waktu untuk belajar agar hal itu terwujud. Padahal ujian itu datangnya setiap saat, kita fokus ke mimpi kita yang kita dapatkan hanya mimpi itu saja tapi tidak mendapat yang lain…
Contoh lain kalau kita ingin mobil yang kita hanya dapet mobil padahal kemampuan kita itu bisa dapat pesawat…
Coba perhatikan beberapa scientist yang sudah ada seperti steven hawkins, einstein apa dia pernah bermimpi untuk bisa menemukan teori relativitas???
tidak, dia hanya mengkaji dan dari pengkajian itu dia menyimpulkan suatu penemuan seperti teori relativitas, fisika quantum dll…
Bagaimana mungkin kita bisa menghayalkan kenyataaan, kenyataan itu bukan dari hasil pemikiran kita, jadinya pasti beda…. Kita lah yang hidup dalam kenyataan bukan kenyataan yang hidup dalam kita…
trims y
Rakyat Kecil said,
December 11, 2008 at 9:40 am
terimakasih atas komentarnya.
Lalu bagaimana dengan pernyataan “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk ibadah”? pernyataan itu berarti ibadah merupakan kewajiban dan bukan tujuan (berdasarkan apa yang saya pahami). dan sudah sepatutnyalah kita beribadah untuk sang pencipta.
Saya beranalogi seperti ini :
Dalam perlombaan lari, tujuan yang hendak dicapai adalah mencapai garis finish. (ini berarti tujuan itu merupakan titik akhir). sedangkan untuk mencapai tujuan itu si pelari harus berlari secepat mungkin. (ini merupakan cara untuk mencapai tujuannya).
Dalam permasalahan agama (ini lagi2 menurut pemahaman saya):
Titik akhir kehidupan ini adalah untuk berada di surga. dan untuk mencapai tujuan itu kita wajib, kudu, mesti menjalankan ibadah (dan ini merupakan cara dan syarat yang harus ditempuh).
Seseorang yang ingin masuk surga dikatakan berhayal jika keinginan itu hanyalah sebatas keinginan. Dia tidak berusaha mewujudkan keinginannya itu dengan sungguh-sungguh (dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya). Beda halnya dengan bermimpi, orang itu akan dengan sungguh2 melakukan apapun untuk mewujudkan mimpinya itu walaupin belum tentu akan terwujud (itu hak prerogatif DIA).
Itu sebatas apa yang saya pahami. jika pemahaman ini keliru mohon pencerahannya untuk bisa diluruskan.
kandagalantes said,
December 11, 2008 at 10:00 am
iyap, surga itu hak ferogatif ALLah SWT,
Jadikan aja kewajiban itu sebagai tujuan karena itu yang akan di tuntut sama Allah SWT bukan uangnya, mobil, izasah dll….
emang ada lil jannah? lil pahala? lil uang? lil tujuan anda?
yang ada kan lillahita’ala
hanya karena Allah semata
cari di al-quran banyak yang menyuruh “katakan bahwa aku tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan apapun”
trims y
Rakyat Kecil said,
December 11, 2008 at 1:19 pm
Sepakat jika statementnya adalah “tidak mempersekutukanNya”.
Namun, saya memiliki pandangan bahwa setiap manusia berhak memiliki mimpi, setiap manusia berhak memiliki keinginan. Dan surga itu adalah mimpi tertinggi dari setiap manusia (menurut pandangan pribadi saya). Jika mimpi atau keinginan itu berbenturan dengan masalah mengesakanNya (dengan kata lain mimpi yang mengarah untuk mempersekutukan Dia), maka mimpi itu sudah sepatutnya untuk dikebelakangkan dan mendahulukan kepentingan PengesaanNya. Tapi itu bukan berarti manusia tidak berhak memiliki mimpi.
Yang saya pahami dasar hukum masalah ibadah adalah haram kecuali yang ada dalil yang memerintahkannyanya. Sebaliknya, dasar hukum masalah amaliah adalah mubah kecuali ada dalil yang melarangnya (jika salah tolong dikoreksi). Dan menurut saya memiliki mimpi itu bukan hal yang berkaitan dengan ibadah bukan….?
Sejauh yang saya ketahui (dari keterangan yang pernah saya baca) yang dilarang adalah “panjang angan” yang dalam konteks ini saya artikan sebagai hayalan. karena berhayal itu dapat menjadikan orang lalai dalam berbagai hal. Itu kenapa dalam tulisan ini saya katangan “mimpi hanyalah angan-angan sampah jika kita berhenti dan menyerah pada kegagalan”. tentu saja mimpi yang saya maksud disini adalah mimpi yang positif (keinginan yang kuat dan positif yang dibarengi dengan usaha yang gigih).
Sebagai contoh :
Saya memiliki mimpi untuk memiliki kehidupan rumah tangga seperti kisah2 keluarga rasul yang begitu harmonis. Disini saya sebut mimpi karena itu merupakan sesuatu yang mungkin sulit untuk saya wujudkan dengan kondisi saya yang sekarang terutama masalah akhlak. tapi itu juga bukan hayalan selama saya terus berusaha memperbaiki kualitas diri. Mimpi itu akan menjadi angan2 sampah ketika saya berhenti dan putus asa untuk mewujudkannya.
seperti halnya untuk tidak mempersekutukan Allah. mungkin itu merupakan mimpi yang ideal bagi setiap manusia. Namun apakah semudah itu untuk mewujudkannya. Jika itu sebatas keinginan tanpa kemauan keras untuk mewujudkannya, itu hanyalah angan2 sampah yang samasekali tidak memiliki nilai.
Jadi inti dari tulisan saya yang berjudul “mimpi = sampah atau harta karun?” itu adalah membahas tentang sebuah keinginan. jika keinginan itu dibarengi dengan usaha yang keras untuk mewujudkannya maka itu merupakan harta karun namun sebaliknya itu hanyalah setumpuk sampah yang mengotori otak kita.
Tolong dikoreksi jika ada pernyataan saya yang mungkin keliru dalam memahami sesuatu. Anggap saja saya murid bodoh yang berotak bebal yang masih sangat membutuhkan bimbingan untuk keluar dari kebodohan.
kandagalantes said,
December 12, 2008 at 12:57 am
iyap semua orang berhak bermimpi dan memiliki keinginan.
Pernahkah kita bermimpi untuk mengambil minum?
Pernahkah kita bermimpi untuk mandi pagi or sore?
Kenapa kita bermimpi karena kita menyadari bahwa saat sekarang ini hal itu belum tercapai saking sulitnya……
Padahal kesulitan yang lebih sulit itu muncul saat kita harus menjalankan ibadah dengan sebenarnya sedangkan ujian itu munculnya setiap saat.
MIs: kalau kita sedang berusaha mengejar mimpi dengan cara menyelesaikan tugas kantor lalu anak anda membutuhkan anda untuk menemaninya saat liburan dan anda mengatakan maaf gak bisa or kamu harus mengerti pekerjaan ayah dll…
naaah ujian yang jelas di depan mata kayak gitu saja banyak yang gagal…
contoh masih banyak lagi, sedikit saja
kalau kita mengejar mimpi dan mimpi itu terwujud, pernahkah kita melihat berapa banyak ujian yang sudah kita terlantarkan or berapa banyak ibadah habluminannas or ibadah yang secara tidak langsung kepada Allah SWT sudah kita tinggalkan…..
trims y…..
Rakyat Kecil said,
December 12, 2008 at 7:07 am
Jangan samakan mimpi dengan cara menggapai mimpi.
Mimpi untuk memiliki pemimpin yang memiliki akhlak mulia adalah sesuatu yang positif. Namun terkadang cara yang digunakan adalah cara yang salah dan menyimpang (misal dengan kekerasan dsb). Disini yang salah adalah cara yang digunakan, bukan mimpi itu sendiri.
Seperti yang anda misalkan, menjadi seorang karyawan teladan bukanlah mimpi yang buruk. Hanya saja jika untuk meraih mimpi itu kita mengorbankan keluarga, itu merupakan cara yang salah.
Apabila ada 2 kepentingan yang berbenturan, maka pilihlah yang paling banyak manfaatnya dan paling sedikit mudharatnya. Dalam kasus karyawan tadi, tentu keluarga seharusnya lebih mendapatkan prioritas. Karena biar bagaimanapun ia pasti memiliki mimpi keluarga yang bahagia (kecuali ia tidak menjadikan itu sebagai salah satu mimpi dalam hidupnya).
Salam….
kandagalantes said,
December 12, 2008 at 7:49 am
Mimpi untuk memiliki pemimpin yang memiliki akhlak mulia adalah sesuatu yang positif-> sisi positifnya mana? kita hanya jadi orang yang menunggu saja, coba kalau kita maximalkan potensi diri kita maka kita saja yang jadi pemimpin…
kebanyakan kita karena sering bermimpi maka ujungnya kita ngandalin orang lain juga, naaah itu malahan gak bagus or kita malahan keduluan juga ama orang lain…
aku sih lebih berpendapat bahwa dengan kita bermimpi or menggapai mimpi or memiliki mimpi itu hanya membuat kita terbatasi oleh fikiran kita saja….
beban mental or penjara mental…
toooh mimpi itu pasti yang enak2x aja bukan…
apa pernah kita mimpi untuk mandi sore?
apa pernah kita mimpi untuk makan siang?
Tooh pada dasarnya kita mengerjakan kebaikan, ibadah seperti pada keluarga juga emang udah sewajarnya artinya tanpa ada mimpi juga hal tersebut harus terlaksana….
Allah SWT itu berhak memaksa orang lain. Dengan adanya kita diwajibkan taat or beribadah maka mau ga mau ya kita laksanakan, jadi bukan mimpi kalau kita bermimpi berarti kita mengharapkan masa depan kita seperti itu bukan…
karena umumnya orang bermimpi or memiliki mimpi sebagai sebuah manifest diri yang belum terwujud alias obsesi…
Hanya saja siapa yang tahu masa depan.
Kapan kita meninggal?
kapan kita bersenang2x?
siapa yang tahu…. kenyataan itu merupakan suatu yang misteri, kita menghadapi itu sebagai suatu tantangan alias ujian…
trims y….
Rakyat Kecil said,
December 12, 2008 at 11:39 am
Tau laskar pelangi kan.
Itu merupakan mimpi yang saya maksud.
Mereka bermimpi untuk menjadi sukses dimana mereka sendiri hidup dilingkungan yang bisa dibilang tidak memungkinkan untuk mencapai sukses.
Pada kenyataannya mereka yang memiliki mimpi itu yang akan sukses. mereka tidak menyerah begitu saja pada kenyataan.
Mereka terus berjuang dengan gigih untuk meraih mimpinya.
Mereka berjuang meraihnya dengan tidak melanggar norma2 yang ada, tanpa menyakiti siapapun, tanpa ada yang dikorbankan kecuali waktu bersenang2 mereka.
MEREKA MEMILIKI MIMPI, BUKAN MEMILIKI HAYALAN.
Mimpi mereka menjadikan mereka semangat dalam menggali potensi yang ada pada diri mereka untuk meraih sukses.
kandagalantes said,
December 15, 2008 at 12:46 am
iy sih, mereka berhasil tapi apa yang mereka hasilkan cuman segitu aja alias cuman sebatas mimpi mereka….
coba kalau mereka menyadari semuanya pasti deeh lebih dari itu…
apa yang mereka gali potensi untuk meraih mimpi bukan potensi untuk menghadapi realitas secara keseluruhan yang mereka hadapi.
Kalau misalnya mereka bisa menghadapi realitas hidup secara complete maka maybe mereka bisa membantu orang2x lain yang menjadi sapi perahan kapitalis untuk mendapatkan fasilitas yang layak bukan menjadi salah satu kapitalisnya or bagiannya….
trims y…
Rakyat Kecil said,
December 15, 2008 at 6:02 am
Saya bukan orang yang mengerti dunia seperti itu. kapitalis, atau apalah itu. Saya khawatir saya akan terjerumus ke arah politik. Saya samasekali tidak kompeten dalam masalah itu. Maaf, saya tidak bisa menanggapi masalah kapitalis yang anda maksudkan.
————–
Saya hanya membayangkan apabila Indonesia pada masa penjajahan tidak ada seorangpun yang bermimpi untuk merdeka. Apakah mungkin kemerdekaan itu datang dengan sendirinya? Dengan mimpi untuk merdeka itu mereka rela mengorbankan jiwa dan raga mereka demi terwudunya impian mereka. Mereka rela berkorban agar anak cucunya kelak tidak merasakan apa yang mereka rasakan pada masa itu.
“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, Jika kaum tersebut tidak berusaha merubahnya”. –> Dan itu berawal dari apa yang saya sebut mimpi.
—————-
Mungkin ada yang perlu saya pertegas tentang pandangan saya :
Mimpi = sampah
(jika tidak ada kemauan dan usaha yang gigih untuk meraihnya)
Mimpi = harta karun
(Jika disertai dengan kemauan dan usaha tanpa mengenal lelah)
Jadi… saya bukan orang yang mendewakan mimpi. saya hanya percaya bahwa mimpi itu merupakan salah satu yang bisa kita jadikan pembangkit semangat
kandagalantes said,
December 15, 2008 at 6:51 am
kapitalis itu bukan bagian dari politik tapi perniagaan…
kalo menurut saya, kemerdekaan itu udah selayaknya di dapatkan dalam artian kemerdekaan itu hak yang harus diperjuangkan. di alquran juga udah mengajarkan hukum qishaash or nabi pun mengajarkan kalau kita diperangi maka kita perangi lagi bukan sabar sambil diem.
menurut saya mereka tidak bermimpi, karena apa? kalau mereka hari ini saja tidak berhasil untuk merdeka dari penjajahan bagaimana mungkin anak cucu bisa…
artinya sekarang y sekarang….
apa yg terjadi kemudian hari itu urusan nanti, seperti napoleon bonaparte yang memutuskan jembatan saat perang agar pasukannya tidak berfikir pulang, kangen, mati y mati sekalian or pilih hidup atau mati …
trims y
Rakyat Kecil said,
December 17, 2008 at 3:30 pm
Mungkin sudut pandang kita saja yang berbeda. (contoh dalam masalah kemerdekaan tersebut diatas).
Saya memandang itu sebagai mimpi. kenapa? karena itu adalah suatu kondisi yang tidak akan mungkin tercapai pada kondisi saat itu (persenjataan yang lemah, persatuan & kesatuan yang belum kokoh dsb…) tanpa adanya perjuangan yang ulet dan tanpa mengenal lelah. berjuang saja tidak cukup, tapi harus dibarengi dengan sikap optimis dan tidak terhenti langkahnya oleh kegagalan. itulah definisi mimpi yang ada dibenak saya.
Anda memandang itu sebagai hak yang memang harus diperjuangkan. Dan menurut saya pandangan anda bukan merupakan pandangan yang salah.
kandagalantes said,
December 24, 2008 at 6:29 am
Seolah – olah impian itu adalah TARGET
mimpi ini target2x yang kita buat sendiri…
target itu sebaiknya berasal dari pembuktian kompetensi diri, bukan target itu dari pengejaran thdp apa yang kita inginkan….
karena dlm 1 kemampuan saja yg kita miliki kita bisa menguak banyak hal bukan hanya apa yg menjadi target or mimpi kita itu saja…
kalau berkhayal lebih parah lagi, mereka yg berhayal habis hanya untuk angan2x kosong saja, berharap hidupnya bisa seenak yg dibayangkan…
Efisien dan efektifitas cara berfikir sehingga membuat tindakan kita lebih terfokus…
lihat saja balon, benda itu pecah kalau di tusuk oleh jarum, jarum itu tajam karena terfokus pada 1 ttitik, tapi lihat batang kayu kita tusuk ke balon maka tidak pecah karena titiknya itu tidak terfokus alias lebar…
hanya saja jarum itu bukan hanya di gunakan untuk menusuk benda saja bukan masih banyak yg lainnya, naah kalau kita mimpi yg kemudian kita jadikan target maka bagaikan jarum yang hanya digunakan untuk menusuk saja tapi tidak kita gunakan ke tempat yg lain…
trims y…
Rakyat Kecil said,
December 24, 2008 at 10:01 am
Tidak pernah ada yang membatasi seseorang hanya boleh memiliki satu mimpi.