Mimpi = sampah atau harta karun ?

October 10, 2008 at 8:11 am (Uncategorized)

Begitu banyak kesuksesan itu berawal dari mimpi.
Sejarah mencatat bahwa beberapa penemuan2 penting itu berawal dari pikiran2 yang dianggap bodoh oleh si penemu.
Sebut saja thomas alfa edison yang menemukan lampu pijar.
Sebelum dia berhasil mewujudkan mimpinya, semua orang menganggap dia adalah orang yang tidak waras.

Ya… mimpi memang memliki kekuatan dahsyat.
Tapi jangan kita lantas sembarangan menjadi pemimpi.
Mimpi seorang thomas alfa edison adalah mimpi seorang yang berkemauan keras untuk mewujudkan mimpinya itu.
Mimpi seorang penemu lampu pijar itu adalah mimpi yang dibangun diatas keteguhan hati dalam menapaki berbagai macam kegagalan.

Jadi…
Jangan berani-berani menjadi seorang pemimpi, jika kita tidak memiliki keberanian untuk gagal.
Jangan berani-berani menjadi seorang pemimpi, jika kegagalan masih dianggap sebagai suatu penghambat.
Bermimpilah untuk hal yang sungguh-sungguh ingin kita nikmati kegagalan demi kegagalan yang ada dihadapan.

Karena mimpi hanyalah angan-angan sampah jika kita berhenti dan menyerah pada kegagalan.
Mimpi adalah harta karun yang amat berharga jika kita berhasil menemukan setiap kepingan kegagalan yang terserak untuk disusun menjadi sketsa keberhasilan.

Untuk yang berani bermimpi, ingatlah :

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya

* Nidji – Laskar pelangi

.: Ispired by Laskar pelangi :.

Permalink 16 Comments

Luka

October 2, 2008 at 5:35 pm (Uncategorized)

Ngga ada seorangpun yang mau punya luka
Rasanya ngga enak

Seberapa sakitnya luka itu, ternyata bukan sepenuhnya dipengaruhi seberapa besarnya luka itu sendiri
Sakitnya luka juga ternyata dipengaruhi dimana luka itu ada

Kalo ketusuk jarum ditelapak tangan mungkin rasanya cuma kaya di gigit semut
Tapi kalo ketusuknya dimata…. pasti bukan cuma kaya digigit semut kan…
Padahal luka yang ditimbulin sama…

Ngomongin masalah luka…
Berhubung masih suasana ‘Iedul fitri, Gue mohon dibukain pintu maaf yang sebesar-besarnya untuk semua pihak yang pernah terluka atas tingkah polah gue. Mudah2an luka yang gue tinggalin letaknya bukan ditempat yang “Ma’ nyuss”. Gue ngga berharap lu bisa maafin gue sekarang, gue cuma mau lu berfikir untuk mencoba memaafkan gue, nanti… ketika menurut lu gue udah pantes untuk mendapatkan maaf dari lu. Setidaknya pintu maaf itu masih ngga terkunci, hanya belum bisa terbuka.

Permalink Leave a Comment