Sebuah Keinginan
Aku kagum atasmu wahai para penyair
Engkau begitu piawai mengungkap isi hati
Ungkapanmu begitu dahsyat menarik mereka para penikmat keindahan
Aku… Disini ingin menumpahkan segala apa yang kurasa
Namun tanganku begitu kaku menulis bait2 puisi hidupku
Lisanku tak mampu melafazkan gejolak batinku
* Yang aku mau hanya apa yang aku inginkan bukanlah sesuatu yang berseberangan dengan batas yang telah Engkau gariskan. Namun, terkadang inginku selalu saja menarik tanganku untuk melewatinya. Wahai gadis. Uluran tanganmu telah membantuku menemukan kembali jalan yang sempat hilang dari pandanganku. dirimukah wanita yang Tuhan akan titipkan untukku? Aku berharap, namun Tuhan penentu jalan. Semoga Tuhan memberi jalan terbaik untuk hambaNya yang beriman*
Engkau Maha Tahu
Ya allah..
Sunguh hamba mengharapnya
Hamba inginkannya layaknya perahu yang mendamba labuhan
Kebaikan telah nampak dipelupuk mata hamba yang mungkin hanyalah kebaikan semu
Engkau lebih mengetahui atas segala kebaikan dan keburukan hambamu
Kaarna Engkau maha mengetahui
Semua kuserahkan padamu ya Rabb
Engkaulah sebaik-baiknya penulis skenario cerita hidupku
Apapun itu, aku akan berusaha tersenyum menerimanya
Semoga hamba tergolong dalam kelompok hambamu yang Engkau Ridhoi
Semoga barokah menyertai gerak langkah hamba
* Ketika harapan berhadapan dengan ikhlas
Selamat Jalan
Kemarin, beliau masih duduk bersebelahan denganku dalam satu forum yang membahas persiapan “Switch Over” yang rencananya akan diselenggarakan akhir pekan ini. Beliau tampak lelah dan sempat memejamkan mata sejenak dalam forum itu. Namun, tidak ada tanda2 dia akan pergi. Setidaknya kami yang berada diforum itu tidak menyadarinya, walaupun mungkin sebenarnya dia sudah menampakkanya. Semangatnya masih terlalu dominan untuk menutupi kelelahannya itu yang mungkin ungkapan lelah terhadap dunia ini.
Hari ini dia telah pergi. Jiwanya telah terbebas dari kefanaan. Buku catatan hidupnya kini telah sampai pada halaman terakhir. Ya, dia telah menutup matanya. Selamanya. Dia telah kembali kepada Rabb-nya.
Selamat jalan. Selamat menempuh “hidup baru”. Semoga Apa yang telah engkau usahakan dapat memberi manfaat untuk “hidup baru”mu kini. Semoga kelapangan menyertai perjalananmu. Semoga sosok rupawan yang kelak menjadi temanmu di sana. Semoga Engkau mendapatkan cahaya yang membuatmu tersenyum menanti hari yang dijanjikan.
Tunjukkan Arahmu
Rasa ini begitu memuncak kurasa
Layaknya pendaki saat mengukir atap bukit dengan jejak2 sang petualang
Berilah arah untuk bahagiaku menuju kemulyaan
Agar tak tersesat oleh fatamorgana ciptaan makhluk penghuni jahanam
*Saat sentuhanMu kurindu
Kutitip Rasa Ini
Ku titipkan rasa ini padamu.
Aku sungguh tak mampu menjaganya.
Hatiku ini terlalu lemah untuk itu.
Kau saja yang tentukan.
Kau saja yang pilihkan.
Aku… ingin hanya kau yang hadir dibalik bahagiaku.
Engkaulah kesempurnaan itu
* karna engkau Tuhanku